Tuesday, March 15, 2011

Anjing Dalam Islam.

Saya tak berapa selesa untuk mempersoalkan tentang ini. Tapi selalu tertanya tentang soal hukum pembelaan anjing. Memang dah terang-terangan anjing itu haram dalam islam. Tapi sering saja saya lihat orang islam dekat dengan anjing. Saya masih lagi study mengenai hal ini. Tidak lah cakap hebat dalam soal hukum halal haram. Diri sendiri pun tak berapa betul lagi. Banyak sebenarnya kes-kes begini terjadi. Tapi saya ambil beberapa contoh untuk memberi kesedaran buat diri sendiri.

Kes pertama :

Wanita melayu berkahwin dengan lelaki india. Bela anjing. Buat macam bela kucing. Bermain-main. Petang-petang bawak jalan-jalan macam style orang kafir.

Kes kedua :

Wanita melayu juga. Tetapi bertudung litup, malah labuh. Membela anjing dan anak-anak bermain dengan anjing ibarat bermesra dengan kucing.

Kes ketiga :

Masih lagi keluarga melayu. Membela anjing. Tetapi membela untuk menjaga rumah. Dijadikan sebagai pengawal.

(Kes-kes yang di huraikan semuanya berlaku di sekeliling saya. Benar-benar terjadi.)

Seriously, saya tak faham apa yang bermain di fikiran mereka-mereka tu. Kalau yang gunakan anjing untuk menjaga rumah, atau kebun, saya boleh terima lagi. Tapi yang bertudung litup? Biar anak-anak main bersama? Mazhab mana yang mereka ikut? Mana soal hukum halal haram dalam agama kita? Bertudung sebab kata membuaka aurat itu haram. Tapi, membela anjing malah bermain-main bersama itu apa? Orang kata sentuh anjing kalau tangan tak basah tak apa. Tapi jangan terkena air liurnya. Diwajibkan untuk menyamak, sebab najis yang paling berat. Terlalu banyak persoalan yang timbul.

Saya ada membuat beberapa penyelidikan (macam csi pula). Dalam apa yang saya baca dan fahami, jika memelihara anjing dalam islam TANPA ada keperluan, dilarang sama sekali oleh Nabi, nak-nak jika memeliharanya di dalam rumah.

Adanya anjing dalam rumah seorang muslim memungkinkan terdapatnya najis pada sekitar rumah di sebabkan  anjing yang tabiatnya suka menjilat.

Dimana Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

"Apabila anjing menjilat dalam rumah kamu, maka cucilah dia tujuh kali, salah satu di antaranya dengan tanah. (menyamak) " -Riwayat Bukhari-

Rasulullah s.a.w. juga pernah mengatakan:

"Malaikat Jibril datang kepadaku, kemudian ia berkata kepadaku sebagai berikut: Tadi malam saya datang kepadamu, tidak ada satupun yang menghalang aku untuk masuk kecuali karena di pintu rumahmu ada patung dan di dalamnya ada korden yang bergambar, dan di dalam rumah itu ada pula anjing. Oleh karena itu perintahkanlah supaya kepala patung itu dipotong untuk dijadikan seperti keadaan pohon dan perintahkanlah pula supaya korden itu dipotong untuk dijadikan dua bantal yang diduduki, dan diperintahkanlah anjing itu supaya dikeluarkan -Riwayat Abu Daud, Nasa'I, Tarmizi dan Ibnu Hibban-

(Hadis nie copy paste. So, tak tahu lah ape benda alahnya korden tu)

Anjing yang dilarang dalam hadis ini hanyalah anjing yang dipelihara tanpa ada keperluan.

Anjing yang dipelihara karena ada kepentingan pula, misalnya untuk berburu, menjaga tanaman, menjaga binatang dan sebagainya dapat dikecualikan dari hukum ini. Sebab dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan lain-lain, Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa memelihara anjing, selain anjing pemburu atau penjaga tanaman dan binatang, maka pahalanya akan berkurang setiap hari satu qirat." -Riwayat Jamaah-

Berdasar hadis tersebut, sebagian ahli fiqih berpendapat, bahwa larangan memelihara anjing itu hanya makruh, bukan haram, sebab kalau sesuatu yang haram sama sekali tidak boleh diambil/dikerjakan baik pahalanya itu berkurang atau tidak.


Dilarangnya memelihara anjing dalam rumah, bukan berarti kita bersikap keras terhadap anjing atau kita diperintah untuk membunuhnya. Sebab Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Andaikata anjing-anjing itu bukan umat seperti umat-umat yang lain, nescaya saya perintahkan untuk dibunuh." -Riwayat Abu Daud dan Tarmizi-


Rasulullah pernah juga mengkisahkan kepada para sahabatnya tentang seorang laki-laki yang menjumpai anjing di padang pasir, anjing itu menyalak-nyalak sambil makan debu karena kehausan. Lantas orang laki-laki tersebut menuju sebuah sumur dan membuka kasutnya kemudian dipenuhi air, lantas minumlah anjing tersebut dengan puas.

Setelah itu Nabi bersabda:
"Kerana itu Allah berterimakasih kepada orang yang memberi pertolongan itu serta mengampuni dosanya." -Riwayat Bukhari-
Dari apa yang saya baca dan fahami sendiri pada setiap hadis-hadis berikut, sedikit sebanyak terungkai persoalan yang sering bermain dalam fikiran. Tapi macamana nak berikan kesedaran pada yang melakukan? Tepuk dada, tanya selera :) 



No comments: